BREED #282: Playing To Win – Deni Yulian, Ningky S Munir & Fuad A Herya

Topik: Pembahasan Buku Playing to Win dan Penerapannya dalam Strategi Bisnis

Poin-poin:

  1. Pengantar Diskusi dan Latar Belakang
  • Diskusi merupakan sesi BREED ke-282 dengan fokus pada buku Playing to Win.
  • Buku direview oleh Mas Denny (CTO Labs 247) dan dikomentari oleh Prof. Ningki (Rektor, akademisi manajemen strategi).
  • Tema diskusi menekankan strategi bisnis yang relevan lintas industri, tidak terbatas pada konteks korporasi besar.
  1. Latar Belakang Buku dan Penulis
  • Ditulis oleh A.G. Lafley (mantan CEO P&G) dan Roger L. Martin (pakar strategi).
  • Menggabungkan pengalaman praktis CEO dengan kerangka akademik strategi.
  • Berbasis studi kasus transformasi P&G, khususnya produk Oil of Olay.
  • Lafley berhasil melipatgandakan kinerja P&G (penjualan naik 2x, laba naik 4x, valuasi pasar meningkat signifikan).
  1. Permasalahan Strategi yang Sering Gagal
  • Banyak strategi gagal karena:
    • Tidak memiliki winning aspiration (aspirasi kemenangan yang jelas dan inspiratif).
    • Tidak fokus dalam menentukan arena bermain (where to play).
    • Tidak memiliki diferensiasi jelas dalam cara menang (how to win).
    • Kapabilitas dan sistem tidak mendukung strategi.
  • Strategi bukan sekadar perencanaan, tetapi serangkaian pilihan (choices).
  1. Konsep Inti: Strategy is Choice
  • Strategi adalah tentang memilih:
    • Di mana akan bermain (where to play).
    • Bagaimana cara menang (how to win).
    • Kapabilitas apa yang harus dimiliki.
    • Sistem manajemen apa yang mendukung.
  • Termasuk memilih apa yang tidak akan dilakukan.
  • Proses bersifat iteratif, bukan linear seperti perencanaan klasik.
  1. Strategic Choice Cascade (5 Tahapan Utama)
  • Winning Aspiration: aspirasi kemenangan yang jelas, ambisius, dan inspiratif.
  • Where to Play: menentukan segmen pelanggan, kategori produk, geografi, dan channel distribusi.
  • How to Win: menentukan pendekatan unggul (cost leadership, differentiation, dll).
  • Capabilities: kemampuan inti yang sulit ditiru dan mendukung strategi.
  • Management Systems: sistem, struktur, dan pengukuran yang menopang eksekusi strategi.
  1. Studi Kasus Oil of Olay (P&G)
  • Awalnya stagnan di penjualan USD 800 juta dan dianggap tidak relevan.
  • Winning aspiration: menjadi pemimpin pasar di Amerika Utara dengan target penjualan USD 1 miliar dan menciptakan segmen “masstige” (mass + prestige).
  • Where to play:
    • Menargetkan perempuan usia 35+ yang mulai mengalami tanda penuaan.
    • Tetap bermain di saluran mass market, namun dengan positioning prestise.
  • How to win:
    • Inovasi formula ilmiah (melawan 7 tanda penuaan).
    • Rebranding dan kemasan premium.
    • Iklan di media prestisius.
    • Uji harga (menaikkan harga hingga USD 18 dan tetap laku).
  • Capabilities: riset konsumen kuat, inovasi produk, brand building, distribusi luas.
  • Hasil: penjualan naik menjadi sekitar USD 2,5 miliar dan berhasil menciptakan kategori baru.
  1. Perbandingan dengan Pendekatan Strategi Klasik
  • Paradigma Industrial Organization (IO):
    • Fokus pada daya tarik industri dan posisi kompetitif (Porter, Five Forces).
  • Paradigma Resource-Based View (RBV):
    • Fokus pada sumber daya dan kapabilitas unik internal perusahaan.
  • Playing to Win mengintegrasikan keduanya:
    • Where to play dipengaruhi logika IO (memilih industri/arena menarik).
    • Capabilities dipengaruhi logika RBV (membangun keunggulan internal yang unik).
  1. Kritik terhadap Strategic Planning Tradisional
  • Strategic planning klasik (analisis → SWOT → eksekusi) dianggap bukan strategi.
  • Strategi bukan sekadar hasil analisis kompleks, tetapi keputusan pilihan yang tegas.
  • Analisis digunakan untuk menguji pilihan, bukan menggantikan pilihan.
  • SWOT menjadi lebih fokus jika difilter melalui pertanyaan:
    • Di mana kita bermain?
    • Bagaimana kita menang?
  1. Integrasi EO dan RBV melalui Reinforcing Loop
  • Where to play = memilih medan perang yang menguntungkan.
  • How to win = menentukan posisi dan diferensiasi.
  • Capabilities = membangun aset dan kompetensi unik.
  • Ketiganya membentuk lingkaran saling menguatkan.
  1. Relevansi untuk Bisnis Lain (Contoh Kopi Kenangan)
  • Winning aspiration: menjadi jaringan kopi Grab & Go terbesar di Asia Tenggara.
  • Where to play: mengisi celah antara kopi mahal (Starbucks) dan kopi murah berkualitas rendah.
  • How to win: kualitas tinggi dengan harga terjangkau (masstige concept).
  • Menunjukkan bahwa framework dapat diterapkan di luar korporasi raksasa.
  1. Keunggulan Buku
  • Framework sederhana dan praktis.
  • Ditulis dengan bahasa mudah dipahami.
  • Relevan lintas industri.
  • Kredibilitas tinggi karena berbasis pengalaman nyata dan teori kuat.

Catatan: ringkasan ini dibuat oleh AI (Artificial Inteligence), kesalahan bisa terjadi. Silahkan nonton video aslinya (lengkap) agar tidak salah.

More from author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Related posts

Advertismentspot_img

Latest posts

BREED #281: Thinking in Bets | Sofyandi Sedar & Gilang Tresna AP

Topik: Pembukaan dan Konteks Diskusi BREED 281 Diskusi merupakan sesi BRIDGE ke-281 dengan fokus bedah buku. Moderator memperkenalkan agenda, alur waktu diskusi, serta latar belakang reviewer. Buku...

BREED #280: Mind Reader | Indra Wardhana, Malik J Ali & Titus Herdiawan

Topik: Pembukaan dan Konteks Acara BREED BREED merupakan acara rutin mingguan yang telah berjalan sejak 2020 dan telah mereview lebih dari 250 buku. Kegiatan dilakukan secara...

BREED #279: Digital vs Human | Jaha Nababan, Panji Sisdianto & Malik J Ali

Topik: Gambaran Umum Sesi BREED ke-279Poin-poin: Sesi BREED ke-279 membahas buku Digital vs Human karya Richard Watson. BREED merupakan komunitas diskusi buku dengan fokus pada book...